Selasa, 26 Oktober 2010

Pengawet Nipagin Ada di Kecap Indomie

JAKARTA, KOMPAS.com
Zat pengawet yang ditengarai menjadi penyebab penarikan mie instan di Taiwan adalah Nipagin atau methyl p-hydroxybenzoate. Zat pengawet ini terdapat pada kecap yang disertakan dalam kemasan mie instan khususnya jenis mie goreng. 

" Zat pengawet nipagin digunakan dalam kecap mie instan buatan Indofood. Tapi kalau sausnya menggunaan pengawet lain yaitu asam benzoat. Tentunya, kandungan pengawet dalam Indomie sudah memenuhi syarat aman yang ditentukan. Bahkan, kandungannya jauh sekali di bawah ambang batas yang dapat diterima tubuh untuk konsumsi sehari-hari atau ADI (Acceptable Daily Intake)," ungkap Roy Sparingga, Deputi Keamanan Makanan Badan POM, kepada KOMPAS.com, Senin (11/10/2010). 

Penggunaan Nipagin telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 722 Tahun 1988 tentang bahan tambahan pangan. Apabila dipakai dalam produk kecap, penggunaan batas maksimum adalah 250 mg per kg. Dalam makanan lain, kecuali daging, ikan dan unggas, batas maksimum penggunaan adalah 1.000 mg per kg. Dari kajian persyaratan di beberapa negara seperti Kanada, Amerika Serikat, batas maksimum nipagin dalam pangan yang diizinkan itu 1.000 mg per kg. Sedangkan di Singapura dan Brunei Darussalam, batas maksimumnya dalam kecap 250 mg per kg dan di Hongkong sebesar 550 mg per kg. 

Berdasarkan data Badan POM, hingga saat ini, jumlah produk mie instan yang terdaftar di Indonesia adalah 663 item jenis dalam negeri dan 466 item jenis luar negeri. Dalam melindungi kesehatan masyarakat, Badan POM secara periodik melakukan sampling dan pengujian produk pangan yang beredar di pasaran, termasuk mie instan. Kepala badan POM Kustantinah memastikan, kalau seluruh produk mie instan yang beradar tidak memiliki kadar pengawet nipagin melebihi batas yang ditentukan. "Hasil pengujian, dalam lima tahun terakhir, terhadap kecap yang ada dalam produk mi instan, tidak ditemukan adanya kandungan nipagin yang melebihi batas maksimum yang diizinkan," ucap Kustantinah.

Pengawet Indomie untuk Kosmetik

JAKARTA, KOMPAS.COM
Zat hydroxilmethyl benzoate yang menjadi salah satu pemicu penarikan Indomie di Taiwan adalah zat yang digunakan untuk mengawetkan berbagai produk termasuk makanan, kosmetik dan obat. Produk Indomie yang beredar di Indonesia juga menggunakan zat ini. Namun kadar pengawet yang juga memiliki nama lain Nipagin itu telah memenuhi syarat yang ditentukan Badan POM. 

Menurut keterangan Kepala Badan POM, Kustantinah, penggunaan Nipagin sebagai bahan pengawet telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan No 722 /Menkes/Per/IX/88 tentang bahan tambahan pangan. "Salah satu bahan tambahan yang diatur adalah nipagin (methyl p-hydroxybenzoate) yang berfungsi sebagai pengawet dengan batas maksimum penggunaan. Pengawet memang dibolehkan untuk kosmetik dan obat. 

Untuk makanan seperti mie instan, asalkan tidak melebihkan kadar maksimum yang ditentukan Badan POM, yakni 250 mg per kg," ungkap Kustantinah kepada Kompas.com, Senin (11/10/2010). Di setiap negara, lanjut Kustantinah, batas maksimum pemakaian Nipagin berbeda. "Di Amerika Serikat, Kanada dan Singapura, kadar maksimum Nipagin itu 1.000 mg per kg. Sedangkan di Hongkong 550 mg per kg," ujarnya. 

Selain Nipagin, ada beberapa jenis pengawet lain yang diizinkan BPOM untuk digunakan dalam mie instan misalnya asam benzoat dan propeonat. Untuk informasi lebih lanjut mengenai masalah keamanan pangan, BPOM telah menyediakan Unit Layanan Pengaduan Konsumen (ULPK). 
Unit layanan Badan POM ini dapat dikontak dengan nomor telepon 021-4263333 dan 021-32199000 atau melalui e-mail ulpk@pom.go.id dan ulpkbadanpom@yahoo.com . Masyarakat juga dapat mengontak Layanan Informasi Konsumen di seluruh Balai Besar atau Balai POM di seluruh Indonesia.

Mengenal Pengawet Nipagin

JAKARTA, KOMPAS.com
Kisruh penarikan mi instan produksi Indofood di Taiwan terjadi karena negara tersebut mempersoalkan zat pengawet yang salah satunya bernama nipagin atau methyl p-hydroxybenzoate. Padahal, Codex Alimentarius Commission (CAC), badan yang didirikan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk mengatur standar pangan, telah memperbolehkan pemakaian zat pengawet ini dalam batas-batas tertentu. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Senin (11/10/2010), menyatakan bahwa Indonesia berpatokan pada CAC dan mengizinkan penggunaan nipagin dalam batas tertentu.

Menurut BPOM, penggunaan nipagin pada mi instan yang beredar di Indonesia saat ini masih dalam batas kendali. Hasil uji sampel kecap pada mi instan yang mengandung nipagin dalam lima tahun terakhir menunjukkan, tidak ada dari kandungan zat pengawet tersebut yang melebihi batas maksimal. Lalu apa sebenarnya zat bernama methyl p-hydroxybenzoate yang ditemukan dalam kecap mi instan Indofood yang dicemaskan Pemerintah Taiwan itu?

Menurut informasi yang dikutip Badan Pengawas Makanan dan Obat Amerika Serikat atau Food and Drug Administration (FDA), nipagin merupakan zat tambahan untuk mencegah jamur dan ragi. Methyl p-hydroxybenzoate adalah salah satu dari jenis parabens atau pengawet yang banyak digunakan untuk kosmetik dan obat. Nipagin memiliki nama lain, yakni methylparaben dengan rumus kimia CH3(C6H4(OH)COO). Jenis paraben lain yang juga banyak digunakan adalah propylparaben dan butylparaben.

Menurut FDA, untuk suatu produk biasanya paraben yang digunakan berjumlah lebih dari satu jenis. Pengawet ini biasanya digabung dengan pengawet lain untuk memberikan perlindungan terhadap berbagai jenis mikroorganisme. Methylparaben adalah jenis paraben yang dapat dihasilkan secara alami dan ditemukan dalam sejumlah buah-buahan, terutama blueberry dan jenis paraben lainnya. Sejauh ini, belum ada bukti bahwa methylparaben dapat menimbulkan dampak merugikan bagi kesehatan pada konsentrasi tertentu dalam penggunaan perawatan tubuh atau kosmetik. FDA menilai, methylparaben sebagai pengawet yang aman atau generally regarded as safe (GRAS) untuk kosmetik.

Di Eropa, methylparaben digunakan sebagai pengawet makanan yang mendapat persetujuan Uni Eropa dengan kode E-218. Methylparaben juga dapat dimetabolisme oleh bakteri tanah sehingga benar-benar terurai. Methylparaben mudah diserap dari saluran pencernaan atau melalui kulit. Hal ini dihidroliskan menjadi asam p-hidroksibenzoat dan cepat dikeluarkan tanpa akumulasi dalam tubuh. Di setiap negara, batas maksimum pemakaian nipagin berbeda. Di Amerika Serikat, Kanada, dan Singapura, kadar maksimum nipagin adalah 1.000 mg per kg. Adapun nipagin di Hongkong 550 mg per kg. Di Indonesia, Badan POM telah menetapkan batas maksimal penggunaan nipagin 250 mg per kg.
Penulis: AC,AN

Bahan Tambahan Makanan?

LIFESTYLE / FOOD - ARTIKEL Penggunaan Semua Bahan Tambahan Makanan Berisiko
Rabu, 13 Oktober 2010 | 06:17 WIB JAKARTA, KOMPAS.com

Penggunaan bahan tambahan makanan jenis apa pun, baik untuk pengawet, pemanis, perisa, pewarna, penguat rasa, maupun jenis lainnya mengandung risiko bagi tubuh. Konsumsi bahan-bahan tersebut diperbolehkan dalam jumlah tertentu.

”Konsumen harus cerdas, jangan asal ambil makanan tanpa membaca kandungan bahan makanan yang tertera pada label,” kata Ahli Analisis dan Keamanan Pangan dari Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung, Rahmana Erman Kartasasmita, saat dihubungi dari Jakarta, Selasa (12/10/2010). Menurut dia, batas atas konsumsi sejumlah bahan tambahan makanan (BTM) di Indonesia jauh lebih ketat dibandingkan Eropa, Amerika Utara, dan Australia. Namun, itu tak membuat industri di sana langsung menggunakan BTM hingga batas tertinggi karena konsumen di negara-negara itu cenderung menghindari makanan yang mengandung BTM.

Kondisi sebaliknya justru terjadi di Indonesia. Konsumen tak mengecek akibat ketidakmengertian dan tak mempelajari tulisan pada label makanan. Hal ini menuntut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bekerja lebih keras mengawasi dan mengatur penggunaan BTM. Ahli Kimia Pangan dari Jurusan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada, Umar Santoso, menambahkan, BPOM harus memastikan agar semua industri, baik industri besar maupun rumah tangga yang memproduksi makanan olahan, mematuhi batasan penggunaan BTM. ”Kepatuhan pada regulasi keamanan pangan di Indonesia sangat rendah. Padahal, itu sangat vital,” ujarnya. Kesadaran terhadap pentingnya keamanan pangan harus menjadi perhatian utama industri, konsumen, dan pemerintah karena kecurangan dalam penggunaan BTM bisa berdampak luas.

Menurut Umar, tindakan preventif BPOM masih sangat kurang dan mereka dinilai hanya bereaksi saat terjadi kasus. Secara terpisah, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih menyarankan masyarakat untuk mengutamakan konsumsi makanan segar daripada produk instan terus-menerus. ”Kita harus makan aneka ragam makanan yang sehat dan harus makan sayur dan buah,” ujarnya.

Nipagin Menkes menambahkan, nipagin (methyl parahydroxybenzoat) adalah bahan pengawet makanan yang dipakai di berbagai jenis makanan. Penggunaannya diatur dalam Codex Alimentarius Commission. Sesuai Codex, jumlah asupan nipagin dalam tubuh per hari (acceptable daily intake) adalah 10 miligram per kilogram berat badan. Jika berat badan seseorang 50 kilogram, maka konsumsi aman nipagin 500 mg per hari. Jika berat kecap dalam mi instan 4 gram dan kandungan nipaginnya 1 mg, maka 500 mg nipagin itu setara 2 kg kecap. Jumlah kecap sebanyak itu tidak mungkin dikonsumsi seseorang dalam satu hari. Penggunaan nipagin pada makanan sebenarnya dapat dihilangkan dengan teknologi temperatur ultratinggi. Namun, itu akan membuat nilai ekonomi barang menjadi tinggi. ”Hingga kini belum ada laporan keracunan, apalagi kematian akibat penggunaan nipagin,” ujar Rahmana. Fungsi nipagin hanya menahan laju pertumbuhan mikroba yang membuat makanan cepat rusak. Penggunaan nipagin berlebih tidak memperpanjang daya tahan makanan jika jumlah mikroba dalam makanan itu telah berlebih sejak awal. (MZW/INE)

Sudah Saatnya Indonesia.........


Sy sdg baca buku tp blm selesai. Berikut sy tuliskan 2 alinea yg sudah sy baca. Mohon komentarnya. Sebelumnya sy ucapkan terima kasih.

Perkembangan perusahaan MLM pada dasarnya tidak banyak mengalami kemajuan hingga paruh terakhir tahun 1960-an. Di Inggris dan sebagian Negara-negara Eropa, system MLM mulai bersinar pada awal tahun 1980-an. Sehingga banyak orang menjuluki industri ini sebagai gelombang-tahun-delapan-puluhan. Ini menunjukkan, pertumbuhan industri pemasaran jaringan semakin meningkat dalam kurun waktu dua hingga tiga puluh tahun pertama sejak industri ini hadir sebagai industri baru, hingga terjadi booming pada tahun 1980-an. Mulai akhir tahun 1970-an dan sepanjang tahun 1980-an merupakan tahun-tahun ledakan eksekutif dimana ribuan manajer perusahaan meninggalkan zona aman dari kehidupan para manajer yang telah mapan tersebut dan beralih ke dalam industri pemasaran jaringan untuk memperoleh pekerjaan kewirausahaan. Tidak pernah ada sebelumnya aliran masuk yang lebih besar dibandingkan dengan yang terjadi pada dekade sekitar ini. Industri ini memperoleh momentum peningkatan dan tmbuh menjadi industri terhormat pada tahun 1990-an. Ini terjadi di tengah membumbungnya harga usaha-usaha waralaba yang hidup di bawah tekanan biaya hokum yang tinggi dan intervensi pemerintah yang tidak terhindarkan. Seolah dunia professional ini telah menemukan sebuah potensi kerugian yang rendah dan keuntungan tinggi dari industri pemasaran jaringan. Ledakan eksekutif ini semakin dahsyat manakala kelompok profesi lain, seperti lulusan perguruan tinggi, para professor perguruan tinggi, manajer perusahaan sukses, para CEO, dokter, penasehat hukum/advokat, pejabat negara, konsultan bisnis, rohaniawan dan sebagainya, mengikuti jejak para professional ini. Kredibilitas industri pemasaran jaringan terbangun di bawah pengaruh generasi baru yang datang di tahun 1980-an ini.
Dengan semakin meningkatnya keterlibatan kalangan professional ke dalam industri pemasaran jaringan, pers perdagangan menurunkan banyak laporan tentang fenomena tersebut. Industri ini didiskusikan dalam publikasi terkemuka seperti The Wall Street Journal, Forbes, Success, Working at Home, Chicago Tribune, juga oleh Associated Press dan masih banyak lagi. Kredibilitas ini juga semakin meluas ke sektor uiversitas. Selama dekade penutupan millennium kedua, muncul perdebatan di Universitas Harvard mengenai perlu-tidaknya pemasaran jaringan ini diajarkan kepada mahasiswa mereka. Secara kelembagaan, mungkin Universitas Harvard tidak mengajarkan, tetapi pada bulan April 1997, Charless King, salah seorang doktor yang pernah menginginkan sistem pemasaran jaringan agar menjadi bagian mata kuliah di Harvard, memberikan kuliah tentang pemasaran jaringan di Harvard untuk Kantor Sekolah Hukum Harvard bagian Bimbingan Kehidupan Mahasiswa, Asosiasi Hukum dan Bisnis Harvard, dan Klub Marketing Sekolah Bisnis Harvard. Bahkan di luar Universitas Harvard, King bersama-sama dengan Mark dan Rene Reid Yarnell (sepasang pemasar jaringan yang sukses) mengampu mata kuliah pemasaran jaringan di Universitas Illionis, Chicago, AS. Hingga saat ini, universitas yang cukup ternama ini merupakan satu-satunya yang telah mengeluarkan sertifikat dalam bidang ini.

Jumat, 22 Oktober 2010

Mengapa Saya Memilih MLM?

Orang mengenal saya sebagai seorang sarjana komputer, yang pada umumnya bekerja membuat program dengan bayaran yang cukup tinggi. Saya juga menguasai beberapa bahasa asing, yang tentunya menambah "nilai jual" saya. Tetapi mengapa saya malah menekuni bisnis MLM secara fulltime?
  1. Saya tidak mau bekerja untuk uang. Daripada saya bekerja memperkaya bos, mengapa saya tidak menjadi bos yang tentunya bisa memperkaya diri saya sendiri? Memiliki bisnis sendiri pasti lebih baik daripada jadi pegawai. 
  2. Saya tidak suka disuruh-suruh, walaupun dibayar. Harga diri saya terlalu mahal untuk dijual, dan saya tidak mau jual diri demi uang.
  3. Saya belajar banyak tentang hubungan manusia di bisnis MLM, dan ini tidak pernah diajarkan di sekolah.
  4. Saya belajar benar-benar berbisnis dan menghasilkan uang, bukan teori demi teori saja.
  5. Saya bisa belajar memimpin, dan orang-orang yang saya pimpin meliputi orang kalangan bawah sampai orang kalangan atas. Di mana lagi bisa didapatkan kenikmatan ini??? Kapan lagi bisa bicara di depan 4,500 orang seperti yang pernah saya alami???
  6. Saya menjadi penerjemah membantu chairman perusahaan MLM saya tanpa dibayar, dan saya senang sekali karenanya. Saya bisa memperlakukan dia sebagai rekan sederajat, bukan sebagai atasan. Saya tidak perlu takut bercanda ria atau menggodanya, karena saya bukan pegawainya. Saya pun tidak takut dimarahi kalau salah, karena dia toh tidak menggaji saya. Alasan yang sama juga saya pakai ketika saya membantu tim support system MLM saya tanpa dibayar.
  7. Kalau mau menikah dalam 3 tahun (sejak pertama kali berbisnis MLM), dimulai dari nol (tanpa memiliki apa-apa), harus beli mobil, rumah, pesta, honeymoon, mana bisa kalau jadi pegawai??? 
  8. Saya bisa berpacaran dengan rekan kerja (downline) saya, dan bekerja sama saling menyemangati selama menjalankan bisnis. Kalau di perusahaan konvensional, pacaran dengan rekan sekerja sudah tidak disarankan, apalagi menikah (salah satu harus keluar). Di MLM, saya bisa menikah dengan downline saya, dan bisnis saya tetap tumbuh makin besar, hubungan pun makin lengket (karena kumpul lebih dari 8 jam setiap hari, dibandingkan dengan orang lain yang hanya kumpul waktu weekend atau hanya beberapa jam setiap hari).
  9. Saya bisa mengalahkan orang yang mengajak saya (upline saya), baik dari segi pendapatan, peringkat maupun omzet. Di tempat lain, bawahan pasti selalu kalah dengan atasan (skema piramid) 
  10. Saya bisa kaya dengan membantu upline saya lebih kaya, karena upline saya juga membantu saya agar bisa kaya. Di perusahaan biasa, pegawai hanya memperkaya bos tanpa punya kesempatan dirinya sendiri bisa kaya. Sejarah menunjukkan: pegawai tidak pernah kaya. Orang terkaya selalu bukan pegawai (selalu kaya dari saham). Pegawai termahal tidak seorang pun yang masuk daftar orang terkaya, berapa pun gajinya, dan semua tunjangan hilang ketika pensiun (kalau pun ada, minimal jumlahnya).
Artikel  di atas adalah salah satu pengakuan dari pebisnis network marketing (pemasaran jaringan) atau MLM.

Kenapa Network Marketing Akan Selalu Cocok Untuk Anda

Pembaca yang budiman,

beberapa bahkan kebanyakan orang berkata bahwa Network Marketing tidak akan cocok untuk semua orang. Mereka SALAH ! Dalam beberapa menit ke depan silahkan anda baca uraian saya mengapa Network Marketing akan selalu cocok untuk siapa saja, di mana saja.

Berikut beberapa alasan mengapa Network Marketing akan selalu cocok: Bahkan di negara termakmur sekalipun orang-orang akan selalu mencari penghasilan tambahan:

Di dunia ini kenyataannya orang kebanyakan hidup dengan prinsip gali lubang tutup lubang. Mereka hampir selalu tidak punya uang yang berlebih untuk membeli barang-barang bagus dan mewah untuk diri mereka sendiri dan keluarganya. Akan selalu ada DEMAND untuk extra income.

Network Marketing adalah peluang yang sederhana, paruh waktu dan berisiko rendah, cocok untuk semua profesional untuk memenuhi kebutuhan extra income mereka. Sederhananya, selama orang-orang masih mencari peluang untuk menambah pendapatan,

Network Marketing akan selalu ada sebagai salah satu alternatif untuk mereka. Orang-orang akan selalu mencari KEBEBASAN dari pekerjaan rutin mereka: Apapun pendapat anda, di luar sana sebagian besar pekerja/profesional tidak benar-benar menikmati pekerjaan mereka. Mereka pergi bekerja karena mereka terpaksa. Network Marketing menjanjikan sebuah kebebasan finansial yang sesungguhnya. Sebuah cara untuk keluar dari rutinitas harian yang membosankan.

KEBEBASAN inilah yang akan selalu terlalu menggoda untuk dilewatkan begitu saja. Orang-orang lebih menginginkan KEBEBASAN WAKTU di jaman sekarang: Sebual jajak pendapat yang dilakukan sebuah majalah bisnis, menunjukkan bahwa 68% peserta menyatakan bahwa jika mereka disuruh memilih antara lebih banyak uang atau lebih banyak waktu, mereka memilih untuk memiliki lebih banyak waktu. Network Marketing menawarkan peluang untuk bekerja dari rumah, dan menentukan sendiri waktu kerja anda.

Peluang kebebasan waktu inilah yang akan SELALU menarik orang ke dalam Network Marketing. Kesimpulan : Selama orang-orang mendambakan tambahan penghasilan dan kebebasan waktu, Network Marketing akan selalu ada. Lain kali jika ada orang menyatakan bahwa Network Marketing tidak cocok untuknya, coba tanyakan 3 pertanyaan berikut :
  • Apa anda menginginkan tambahan penghasilan ?
  • Apa anda menginginkan kebebasan dari rutinitas pekerjaan anda ?
  • Apa anda ingin punya lebih banyak waktu luang bersama keluarga ?
Saya yakin, mereka minimal menjawab "ya"; pada salah satu pertanyaan di atas. Ketika itu mereka sudah membuktikan kepada diri mereka sendiri kenapa Network Marketing sebenarnya COCOK untuk mereka.