Selasa, 24 Januari 2017
Apa itu Makanan Organik?
Makanan organik adalah makanan yang dihasilkan dari pertanian organik, sebuah metode produksi berdasarkan prinsip-prinsip yang dimaksudkan untuk:
* Melindungi lingkungan
* Mempertahankan keanekaragaman hayati
* Menghormati siklus alam
Istilah “organik” mengacu pada cara produk pertanian dibudidayakan dan diproses. Persyaratan khusus harus dipenuhi dan dipertahankan agar produk dapat diberi label “organik”.
Tanaman organik harus dipelihara di tanah yang aman, tidak dimodifikasi secara genetis dan harus selalu terpisah dari produk konvensional. Petani tidak diperbolehkan menggunakan pestisida sintetis, organisme hasil rekayasa genetika (GMO) dan pupuk buatan. Meski demikian, residu pestisida tanaman organik tidak selalu nol karena pestisida masih dapat masuk melalui angin, air atau tanah.
Ternak organik harus memiliki akses ke luar ruangan dan diberi pakan organik. Mereka tidak boleh diberi antibiotik, hormon pertumbuhan atau produk sampingan hewani.
Agar mendapatkan label organik, sebuah produk makanan olahan harus mengandung paling sedikit 95% bahan organik bersertifikat.
Manfaat mengkonsumsi makanan organik.
* Lebih bergizi.
Beberapa studi menunjukkan bahwa buah dan sayuran organik (misalnya, beras, tomat, kubis, bawang dan selada organik) mengandung lebih banyak nutrisi seperti vitamin, magnesium, fosfor, zinc dan besi. Susu organik mengandung lebih banyak vitamin E.
* Lebih sehat.
Makanan organik tidak dibentuk menggunakan pupuk kimia, pestisida kimia serta bahan kimia lain sehingga tidak merugikan tubuh manusia. Susu organik memiliki 50-80% lebih banyak antioksidan yang mengurangi risiko tumor.
* Lebih enak.
Banyak orang merasa bahwa makanan organik lebih enak daripada makanan non-organik. Alasan utamanya karena makanan itu dihasilkan dengan sarana produksi alami. Makanan organik juga sering dijual secara lokal sehingga masih segar.
* Kelestarian Lingkungan.
Menjaga lingkungan dari polusi tanah, air dan udara sehingga menciptakan dunia yang aman bagi kehidupan generasi mendatang.
* Kesejahteraan Hewan.
Kesejahteraan hewan merupakan aspek penting dalam produksi susu, daging, ayam dan ikan organik. Orang merasa senang mengkonsumi produk dari hewan yang tidak terkungkung sengsara dalam sangkar.
Jika ingin sharing ilmu/info silahkan invite wa sy: 088217601594
Sabtu, 29 Oktober 2016
Prinsip-Prinsip Penyembuhan Diri
Setiap kita sesungguhnya dapat dan memiliki kekuatan untuk menyembuhkan diri kita sendiri manakala kita menderita sakit yang cukup parah. Tubuh kita diciptakan lengkap dengan sistem dan mekanisme penyembuhan yang secara otomatis mengatasi setiap gangguan yang terjadi dalam tubuh kita. Namun seringkali justru pikiran kita sendiri yang memperparah kondisi penyakit kita. Berikut adalah sejumlah prinsip yang perlu kita perhatikan dalam rangka memelihara kesehatan dan untuk menyembuhkan diri sendiri.
1. Apa yang kita yakini itu yang terjadi
Dalam sebuah penelitian tentang efek plasebo terbukti bahwa apa yang kita yakini sangat mempengaruhi apa yang terjadi pada kita. Dalam penelitian itu sejumlah pasien diberi tiga perlakuan obat pengurang rasa sakit yang berbeda: obat ringan, placebo (bukan obat sesungguhnya), dan morfin dosis tinggi.
Pasien yang diberi placebo namun diberitahu bahwa itu morfin, ternyata merasa bahwa rasa sakitnya hilang. Sedangkan pasien yang diberi morfin namun diberitahu bahwa dia diberi obat ringan, lebih dari separuh masih merasakan sakit. Apa pun yang diyakini oleh para pasien justru lebih penting dari pada apa yang sesungguhnya terjadi.
2. Sikap kita menentukan kesehatan kita
Ketika pertama kali kita tahu bahwa kita mengidap penyakit, biasanya respon awal adalah panik. Pikiran kita kemudian menjadi lumpuh oleh ketakutan. Semakin parah penyakit kita, semakin takut kita jadinya. Menurut Wallace Ellerbroek -- seorang ahli bedah yang akhirnya menjadi psikiater – kita sering memandang penyakit sebagai makhluk asing yang memasuki tubuh kita, bukannya sebuah proses. Jika kita memandang penyakit sebagai suatu proses untuk menuju keseimbangan baru, maka kita dapat membantu proses penyembuhan itu sendiri. Kekuatiran dan harapan negatif kitalah yang menyebabkan penyakit itu. Dengan kata lain, orang-orang yang takut kena penyakit lebih berpeluang untuk terkena penyakit sebab tubuhnya terkena dampak dari ketakutannya sendiri.
3. Obat terbaik adalah tertawa
Kita tahu bahwa orang yang tertekan, selalu sedih dan berpikiran negatif lebih sering terkena penyakit daripada orang yang selalu riang dan gembira. Penelitian menunjukkan bahwa kondisi mental yang penuh tekanan seperti: rasa bersalah, kegelisahan, kekuatiran, marah, dan ketakutan dapat menghalangi berfungsinya sistem kekebalan tubuh. Dalam penelitian medis baru-baru ini terbukti bahwa jika kita tertawa, tubuh kita mengeluarkan dua jenis hormon dari otak yang amat penting yaitu enkephalins dan endorphins yang dapat mengurangi rasa sakit, ketegangan dan depresi.
4. Berpikir sehat setiap hari
Setiap hari usahakan untuk meluangkan waktu beberapa menit mengisi pikiran kita dengan pemikiran tentang kesehatan dan kekuatan. Kirimkan pesan positif ke aliran darah, jaringan dan sel-sel tubuh kita. Bayangkanlah energi yang mengalir ke dalam tubuh kita. Rasakan bahwa tubuh kita adalah sebuah mesin yang dapat memperbaiki diri sendiri. Latihan ini merupakan penguat dan penyegar tubuh kita.
5. Lakukan afirmasi setiap hari
Setiap saat selalu katakan ”Every day in every way I am getting better and better.” Setiap hari saya semakin sehat dan semakin baik. Ingatkan diri kita bahwa tubuh kita dapat sembuh secara alami dan dapat memperbaiki diri sendiri. Afirmasikan senantiasa bahwa ”My body is a healing mechanism.”
6. Meditasi dan visualisasi
Salah satu cara mengatasi rasa sakit adalah dengan menggunakan warna. Rasa sakit adalah pertanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres atau tidak seimbang dalam tubuh kita. Jika kita terserang rasa sakit, anggaplah bahwa rasa sakit itu seperti warna merah. Pertama-tama, tingkatkanlah rasa sakit itu di pikiran kita dan bayangkan warnanya semakin merah terbakar. Bila kita dapat meningkatkan rasa sakit berarti kita juga dapat menurunkan intensitasnya. Kemudian bayangkanlah warna merah itu menghilang dan gantikanlah dengan warna favorit anda, misalnya biru, kuning atau hijau. Lihatlah dalam layar mental kita bahwa warna merah menghilang dan berubah menjadi warna baru yang menggantikan.
Setiap orang memiliki cara-cara sendiri untuk melakukan visualisasi dalam mengatasi penyakitnya. Yang pasti kita harus yakin dan disiplin secara rutin melakukan teknik visualisasi sampai penyakit itu hilang dari tubuh kita.
Fb: thegooh.setyo@gmail.com, teguh setyobudi konsultan organik
Minggu, 11 September 2016
Bacalah Dengan (menyebut) Nama Tuhanmu Yang Menciptakan
Mashaa
Allah, adalah perintah Allah dalam Al Qur'an untuk kita memakan hanya
yang Halal dan Baik. Dan kita pun diperintahkan untuk tidak mengikuti
langkah2 syaitan...
Apa Makna Makanan yang Halal dan Baik sebenarnya? Apakah maksud larangan mengikuti langkah syaitan ?
Bagi kita yang Halal sudah jelas,
Akan tetapi bagi kami, Makanan yang Baik adalah Makanan yang tidak tercemar, yang murni bersumber dari tanah yang diproses tanpa rekayasa genetika, rekayasa hormonal, tambahan pewarna, perasa dan pengawet sintetis yang biasa kita sebut MAKANAN ORGANIK, makanan yang seperti nenek moyang kita dahulu makan, dan makanan mereka adalah makanan yang sama sekali jauh dari zat2 tidak baik (SINTETIS).
Apakah maksud dari larangan mengikuti larangan syaitan bersanding kalimat perintah terhadap menjaga makanan?
Jika memakan makanan yang haram adalah langkah syaitan dan kita dilarang untuk mengikutinya, bagaimana tentang perintah untuk memakan yang baik?
Bisa jadi memakan makanan yang tidak baik adalah merupakan langkah syaitan yang Allah melarang kita mengikutinya...
Wallahu Allam bisawab....
Lalu,
Bagaimanakah dengan makanan kita?
Apakah makanan2 yang kita makan saat ini, makanan pokok, sayur mayur, buah buahan dan mungkin suplemen2 yang anda makan sudah betul2 baik dan terbebas dari segala pencemaran dan tambahan zat2 Sintetis yang tidak baik (An Organic)
Masihkah kita menunda bergaya hidup Organik?
Pasti ada kebaikan dalam setiap perintah Allah akan tetapi kebaikan ini hanya akan ada bagi orang yang BERIMAN (Percaya) dan BERAMAL (ACTION).
Alhamdulillah, bagi kami...
BERGAYA HIDUP ORGANIK JAUH LEBIH MUDAH BERSAMA MELILEA.
Semoga Allah Ridho dengan upaya kami untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, dan semoga juga Allah memudahkan langkah kita semua berhijrah kepada yang lebih baik. Aamiin.
Alhamdulillah, insya Allah dan semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan bernilai ibadah. Aamiin.
Silahkan share, like dan komen jika bermanfaat.
Apa Makna Makanan yang Halal dan Baik sebenarnya? Apakah maksud larangan mengikuti langkah syaitan ?
Bagi kita yang Halal sudah jelas,
Akan tetapi bagi kami, Makanan yang Baik adalah Makanan yang tidak tercemar, yang murni bersumber dari tanah yang diproses tanpa rekayasa genetika, rekayasa hormonal, tambahan pewarna, perasa dan pengawet sintetis yang biasa kita sebut MAKANAN ORGANIK, makanan yang seperti nenek moyang kita dahulu makan, dan makanan mereka adalah makanan yang sama sekali jauh dari zat2 tidak baik (SINTETIS).
Apakah maksud dari larangan mengikuti larangan syaitan bersanding kalimat perintah terhadap menjaga makanan?
Jika memakan makanan yang haram adalah langkah syaitan dan kita dilarang untuk mengikutinya, bagaimana tentang perintah untuk memakan yang baik?
Bisa jadi memakan makanan yang tidak baik adalah merupakan langkah syaitan yang Allah melarang kita mengikutinya...
Wallahu Allam bisawab....
Lalu,
Bagaimanakah dengan makanan kita?
Apakah makanan2 yang kita makan saat ini, makanan pokok, sayur mayur, buah buahan dan mungkin suplemen2 yang anda makan sudah betul2 baik dan terbebas dari segala pencemaran dan tambahan zat2 Sintetis yang tidak baik (An Organic)
Masihkah kita menunda bergaya hidup Organik?
Pasti ada kebaikan dalam setiap perintah Allah akan tetapi kebaikan ini hanya akan ada bagi orang yang BERIMAN (Percaya) dan BERAMAL (ACTION).
Alhamdulillah, bagi kami...
BERGAYA HIDUP ORGANIK JAUH LEBIH MUDAH BERSAMA MELILEA.
Semoga Allah Ridho dengan upaya kami untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, dan semoga juga Allah memudahkan langkah kita semua berhijrah kepada yang lebih baik. Aamiin.
Alhamdulillah, insya Allah dan semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan bernilai ibadah. Aamiin.
Silahkan share, like dan komen jika bermanfaat.
Selasa, 07 Juni 2016
Kekuatan Spiritual Hati
Langkah pertama untuk menguatkan hati spiritual adalah dengan merenungkan tujuan penciptaan kita, hubungan kita dengan Allah, pertanggungjawaban kita kepada Allah Subhanallahu wa Ta'ala pada Hari Pertimbangan, dan bagaimana kita bisa memperbaiki diri dengan memfokuskan diri pada hati kita. Terus mengingat kematian membuat hidup ini tidak menyenangkan lagi dan kita akan mengurangi kecenderungan kita pada keinginan-keinginan yang justru menggiring kita untuk mendurhakai Allah. Justru kita terlalu "memberi hati" pada dunia ini, hati kita akan terpengaruh dengan kurang baik.
(Intelligent Heart, DR. Gohar Mushtaq)
Kamis, 19 Februari 2015
RENUNGAN BAGI KITA SEMUA
Berikut
adalah cuplikan yg ada pada buku yg berjudul "Menikahlah, Engkau
Menjadi Kaya" oleh A. Mudjab Mahalli, penerbit MITRA PUSTAKA, halaman
412-418:
Ketiga, anjuran mensyukuri nikmat. Mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan, adalah bagian dari perangai Islami. Dalam Al-Quran Allah telah menegaskan: "Adakah balasan kebaikan selain kebaikan pula?" (QS. Ar-Rahman: 60). Islam mengajak umat manusia agar menghiasi diri dengan sikap sosial, lebih-lebih seorang istri terhadap suaminya. Sikap yang demikian memiliki dampak positip dalam meraih kebahagiaan dalam rumah tangga, sekaligus mengokohkan jalinan hubungan sosial kemasyarakatan. Sebaliknya, Islam sangat mengecam terhadap orang yang tidak mengerti membalas budi serta mengingkari kebaikan orang. Sebab orang yang tidak bisa mensyukuri jasa baik orang lain, sama saja dengan tidak mensyukuri pemberian Allah. Karena itu, seorang istri shalihah harus mampu mengakui serta mensyukuri jasa baik suaminya, hingga hubungan yang harmonis dan jalinan cinta kasih bisa abadi.
Orang yang paling besar haknya serta paling pantas mendapatkan kebaikan istri adalah suami. Aisyah memberikan keterangan: "Aku pernah bertanya kepada Rasulullah: "Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling besar haknya atas seorang wanita?" Jawab Rasulullah: "Suaminya." Lantas aku bertanya lagi: "Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling besar haknya atas seorang lelaki?" Jawab Rasulullah: "Ibunya." (HR. Hakim dan Bazzar dari Aisyah, dan termasuk hadis hasan). Karena itu, Islam menganjurkan kepada istri shalihah agar mampu membalas kebaikan dan jasa-jasa suami dengan mensyukuri, menghormati, menghargai, dan mentaatinya. Mengenang jasa baik suami dengan memberikan ungkapan-ungkapan kata dan perilaku yang indah dalam pergaulan keseharian. Sahabat Abi Hurairah menerangkan, bahwa Rasulullah telah bersabda: "Seandainya aku diperkenankan memerintah kepada seseorang untuk menyembah sesamanya, niscaya aku perintahkan kepada seorang wanita untuk menyembah suaminya. Demi Allah yang diriku berada dalam kekuasaan-Nya, tidaklah seorang wanita menyia-nyiakan kewajiban terhadap Tuhannya hingga dia menyia-nyiakan kewajiban terhadap suaminya." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban dari Abi Hurairah, dan termasuk hadis hasan). Ini adalah menunjukkan betapa besar nilai pahala membalas kebaikan dan jasa-jasa suami dengan bersyukur dan memberikan pengakuan dalam bentuk ketaatan.
Istri shalihah yang mampu mengakui kebaikan suami, yang pengakuannya diwujudkan dalam bentuk pengabdian, maka dia akan mendapatkan pahala besar. Sahabat Abdullah bin Mas'ud menerangkan, bahwa Rasulullah telah bersabda: "Apabila seorang istri mencuci pakaian suami, maka Allah menetapkan baginya seribu kebaikan, mengampuni seribu kejelekan, mengangkat baginya seribu derajat, dan seluruh makhluk yang terkena sinar matahari memohonkan ampunan baginya." (HR. Thabrani dari Abdullah bin Mas'ud).
Mengingkari jasa baik yang telah diberikan, adalah tabiat orang-orang yang keji lagi buruk. Hal mana dapat merusak hubungan dan jalinan, hingga pada akhirnya akan merusak tatanan masyarakat. Lebih-lebih bila dilakukan oleh seorang istri terhadap suami, rumah tangganya pasti akan berantakan. Karena itu Islam sangat membenci serta memberikan ancaman terhadap orang yang memiliki sikap tidak tahu berterima kasih dan bersyukur. Dia dikategorikan manusia tidak bermoral. Sebab ketidaksudian memberikan penghargaan terhadap budi baik orang lain merupakan refleksi dari kebusukan jiwa dan kepribadian, hingga berdampak enggan bersyukur kepada Allah. Padahal Rasulullah telah menegaskan: "Barangsiapa tidak berterima kasih kepada orang lain, berarti dia tidak bersyukur kepada Allah." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad).
Istri yang tidak tahu berterima kasih terhadap suami, sangat dikecam oleh Islam. Sikap yang demikian dapat memasukkan dirinya ke dalam siksa neraka. Zainab menerangkan, bahwa Rasulullah pernah berkhutbah kepada para sahabat, seraya bersabda: "Aku melihat neraka dan kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita." Lantas mereka berkata: "Mengapa demikian, ya Rasulullah?" Jawab Rasulullah: "Karena kekufurannya." Mereka bertanya lagi: "Adakah mereka kufur kepada Allah, ya Rasulullah?" Jawab Rasulullah: "Mereka kufur kepada kebaikan. Ketika kalian berbuat kebaikan kepada salah seorang dari mereka (kaum wanita) sepanjang tahun, kemudian dia melihat satu kekurangan saja darimu, dia akan mengatakan bahwa dirimu sedikitpun belum pernah berbuat baik kepadanya." (HR. Bukhari dan Muslim dari Zainab). Jadi, kebanyakan penghuni neraka adalah wanita yang tidak tahu berterima kasih kepada suaminya. Ibarat suami sudah berbuat baik sepanjang tahun, kemudian hanya ada satu kekurangan saja, wanita itu akan mengatakan bahwa suaminya belum pernah berbuat baik kepadanya. Sungguh, yang demikian merupakan kekufuran terhadap nikmat Allah yang luar biasa, hingga pantas dimasukkan ke dalam siksa neraka.
Seorang istri shalihah tentu selalu berupaya menjauhi sikap tidak tahu berterima kasih, lebih-lebih terhadap suami. Sebab dia sadar, bahwa sikap tersebut bisa melebur seluruh anak kebajikan yang telah dilakukan. Aisyah menerangkan, bahwa Rasulullah telah bersabda: "Apabila seorang wanita berkata kepada suaminya: "Aku sama sekali belum pernah melihat dan merasakan kebaikanmu," maka terhapuslah semua amal kebajikannya." (HR. Ibnu Adiy dan Ibnu Asakir dari Aisyah).
Imam Azizi menerangkan: "Wanita yang mengingkari kebaikan suami, maka amal kebajikannya dilebur oleh Allah. Kerusakan amal tersebut sebagai balasan atas kedurhakaannya terhadap suami. Jadi, pahala wanita itu terhalang, kecuali dia bertobat, kembali mengakui segala kebaikan yang telah diberikan suami. Dan bila ucapan istri itu benar, karena memang suami tidak pernah berbuat baik, maka yang demikian tidak mengakibatkan dileburnya amal kebajikan yang telah dilakukan."
Istri yang tidak mensyukuri kebaikan suami, pada hari kiamat nanti akan dijauhkan dari rahmat Allah. Sahabat Thalhah bin Ubaidillah menerangkan, bahwa Rasulullah telah bersabda: "Wanita mana saja yang berkata kepada suaminya: "Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikanmu, " pada hari kiamat nanti Allah tidak akan memberikan rahmat keapadamu." (HR. Ibnu Adiy dari Thalhah bin Ubaidillah). Sahabat Abdillah bin Amr bin Ash juga menerangkan, bahwa Rasulullah telah bersabda: "Sungguh Allah tidak akan memandang wanita yang tidak tahu bersyukur terhadap suami." (HR. Nasai dari Abdillah bin Amr bin Ash).
Seorang istri yang kaya, kemudian dia tidak mampu bersyukur terhadap suami, maka kelak di akhirat akan dikumpulkan bersama Qarun. Sahabat Utsman bin Affan menerangkan, bahwa Rasulullah telah bersabda: "Seandainya ada seorang wanita memiliki dunia dengan segala isinya, kemudian seluruh kekayaannya itu dia belanjakan untuk kepentingan suaminya, lantas setelah selang beberapa waktu dia mengungkit-ungkitnya, maka Allah akan melebur seluruh amal kebajikannya, dan akan dihalau ke neraka bersama Qarun." (HR. Ibnu Adiy dari Utsman bin Affan). Sahabat Abi Hurairah menerangkan, bahwa Rasulullah telah bersabda: "Seandainya ada seorang wanita memiliki harta seperti kekayaan nabi Sulaiman bin Dawud, kemudian sang suami ikut makan harta tersebut, lantas dia berkata kepada suaminya: "Dimana hartaku, " maka Allah akan melebur amal kebajikannya selama empat puluh tahun."
Seorang istri yang menuntut sesuatu, hingga membuat repot sang suami, maka akan dilaknat oleh para malaikat. Sahabat Sa'ad bin Abi Waqash menerangkan, bahwa Rasulullah telah bersabda: "Apabila seorang wanita tidak mau melapangkan (meringankan) kesempitan yang dihadapi suami, maka Allah murka kepadanya, dan seluruh malaikat melaknatinya." (HR. Ibnu Asakir dari Sa'ad bin Abi Waqash). Jadi, seorang istri shalihah harus selalu berupaya meringankan beban yang ditanggung suami. Jangan malah memberatkannya. Seandainya suami memiliki harta lebih pun, seorang istri tidak dibenarkan mengambil tanpa ijin. Apalagi menuntut sesuatu di luar kemampuan, sungguh suatu sikap yang sangat tidak terpuji. Sahabat Mu'awiyah menerangkan, bahwa Rasulullah telah bersabda: "Wanita mana saja yang mengambil harta suami tanpa ijin, maka dia akan menanggung dosa sama dengan dosa tujuh puluh ribu pencuri." (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Adiy dari Mu'awiyah).
Bila istri yang durhaka akan mendapatkan siksa neraka, tentu saja bagi istri yang taat kepada suami akan mendapatkan balasan surga. Padahal ketaatan terhadap suami, adalah hal yang pertama kali dihisab pada hari kiamat. Sahabat Abi Hurairah menerangkan, bahwa Rasulullah telah bersabda: "Perkara yang pertama kali ditanyakan kepada seorang wanita pada hari kiamat nanti, adalah mengenai shalat lima waktu dan waktu ketaatannya terhadap suami." (HR. Ibnu Hibban dari Abi Hurairah).
Sikap tidak terpuji dan mengingkari kebaikan suami, pasti dihindari oleh seorang istri shalihah. Dia selalu berupaya menghias diri dengan akhlak karimah, dan berterima kasih kepada suami. Mencari keridhaan Allah, dan membahagiakan suami. Meraih ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa, serta menciptakan suasana yang penuh kepasrahan dan kesederhanaan. Dia sadar, bahwa suamilah yang telah melindungi kehormatan dan harga dirinya. Menyelamatkan dirinya dari kehinaan dan perbuatan haram, serta membebaskan dirinya dari perdagangan nafsu syahwat para manusia jalang. Dia sadar pula, bahwa suamilah yang memberi nafkah, siap menanggung beban berat dan bekerja sepanjang hari demi memenuhi kebutuhan keluarga, baik sandang, pangan maupun tempat tinggal yang nyaman. Perabot rumah tangga yang layak, dan kehidupan setara dengan yang lain. Suamilah yang selalu berupaya membimbing serta mengarahkan dirinya, demi mewujudkan kebahagiaan dunia dan akhirat yang didamba bersama.
Bila suami merasa bahwa istrinya memberikan pelayanan dan penghargaan yang baik, sebagai ucapan terima kasih atas kebaikan yang telah dilakukan terhadapnya, maka hal demikian akan menumbuhkan cinta kasih yang mendalam serta merangsang suami untuk memberikan sesuatu yang lebih banyak lagi. Suami merasa berada di lahan subur, hingga cepat menumbuhkan pohon kebaikan dan membuahkan hasil yang baik berupa sanjungan dan balas budi sang istri. Tentu saja hubungan mesra, jalinan kasih yang kokoh, dan kerjasama dalam membangun mahligai rumah tangga, akan terasa semakin indah. Di sanalah akan terpancar sinar kebahagiaan dan kedamaian. Sebaliknya, sikap mengingkari kebaikan suami hanya akan mendatangkan kekeruhan hati, merangsang sifat kikir, membangkitkan kejengkelan dan kemarahan, menimbulkan perselisihan dan pertengkaran, yang akhirnya hubungan rumah tangga menjadi porak-poranda.
Untuk itu, kepada istri shalihah ditawarkan satu di antara dua pilihan dari kehidupan berikut ini.
Pertama, kehidupan dimana istri selalu berkata kepada suami: "Aku butuh ini dan itu, tapi kenyataannya aku belum pernah menerima apapun darimu," hingga kemudian suami membalas dengan ucapan: "Aku tidak akan pernah memberi sesuatu pun kepadamu, karena tidak pernah membuahkan suatu hasil kebaikan darimu." Pada akhirnya antara suami istri saling menyakiti, melukai, mencela, menghardik, bahkan sampai baku hantam.
Kedua, kehidupan dimana istri selalu berkata mesra kepada suami: "Suamiku, semoga Allah memberimu pahala atas kebaikan yang telah engkau berikan kepadaku, sekalipun sangat kecil. Semoga Allah senantiasa mencurahkan pertolongan kepada kita," lantas suami membalas dengan kata penuh kasih pula: "Istriku, engkau kepingin apa. Dengan segala senang hati aku akan memenuhinya." Pada akhirnya rasa saling pengertian, hormat-menghormati, bahu-membahu, memadu cinta kasih dan kemesraan, akan tumbuh dengan subur.
Renungkanlah, wahai istri shalihah. Jatuhkanlah pilihan anda kepada sikap yang lebih menguntungkan dirimu, baik di dunia maupun di akhirat. Sebab sorga yang penuh kenikmatan dan kebahagiaan, hanya dapat diraih dengan ketenangan dan ketenteraman dalam berumahtangga. Bukankah Rasulullah telah menegaskan: "Rumahku, sorgaku."
Semoga bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.
Ketiga, anjuran mensyukuri nikmat. Mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan, adalah bagian dari perangai Islami. Dalam Al-Quran Allah telah menegaskan: "Adakah balasan kebaikan selain kebaikan pula?" (QS. Ar-Rahman: 60). Islam mengajak umat manusia agar menghiasi diri dengan sikap sosial, lebih-lebih seorang istri terhadap suaminya. Sikap yang demikian memiliki dampak positip dalam meraih kebahagiaan dalam rumah tangga, sekaligus mengokohkan jalinan hubungan sosial kemasyarakatan. Sebaliknya, Islam sangat mengecam terhadap orang yang tidak mengerti membalas budi serta mengingkari kebaikan orang. Sebab orang yang tidak bisa mensyukuri jasa baik orang lain, sama saja dengan tidak mensyukuri pemberian Allah. Karena itu, seorang istri shalihah harus mampu mengakui serta mensyukuri jasa baik suaminya, hingga hubungan yang harmonis dan jalinan cinta kasih bisa abadi.
Orang yang paling besar haknya serta paling pantas mendapatkan kebaikan istri adalah suami. Aisyah memberikan keterangan: "Aku pernah bertanya kepada Rasulullah: "Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling besar haknya atas seorang wanita?" Jawab Rasulullah: "Suaminya." Lantas aku bertanya lagi: "Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling besar haknya atas seorang lelaki?" Jawab Rasulullah: "Ibunya." (HR. Hakim dan Bazzar dari Aisyah, dan termasuk hadis hasan). Karena itu, Islam menganjurkan kepada istri shalihah agar mampu membalas kebaikan dan jasa-jasa suami dengan mensyukuri, menghormati, menghargai, dan mentaatinya. Mengenang jasa baik suami dengan memberikan ungkapan-ungkapan kata dan perilaku yang indah dalam pergaulan keseharian. Sahabat Abi Hurairah menerangkan, bahwa Rasulullah telah bersabda: "Seandainya aku diperkenankan memerintah kepada seseorang untuk menyembah sesamanya, niscaya aku perintahkan kepada seorang wanita untuk menyembah suaminya. Demi Allah yang diriku berada dalam kekuasaan-Nya, tidaklah seorang wanita menyia-nyiakan kewajiban terhadap Tuhannya hingga dia menyia-nyiakan kewajiban terhadap suaminya." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban dari Abi Hurairah, dan termasuk hadis hasan). Ini adalah menunjukkan betapa besar nilai pahala membalas kebaikan dan jasa-jasa suami dengan bersyukur dan memberikan pengakuan dalam bentuk ketaatan.
Istri shalihah yang mampu mengakui kebaikan suami, yang pengakuannya diwujudkan dalam bentuk pengabdian, maka dia akan mendapatkan pahala besar. Sahabat Abdullah bin Mas'ud menerangkan, bahwa Rasulullah telah bersabda: "Apabila seorang istri mencuci pakaian suami, maka Allah menetapkan baginya seribu kebaikan, mengampuni seribu kejelekan, mengangkat baginya seribu derajat, dan seluruh makhluk yang terkena sinar matahari memohonkan ampunan baginya." (HR. Thabrani dari Abdullah bin Mas'ud).
Mengingkari jasa baik yang telah diberikan, adalah tabiat orang-orang yang keji lagi buruk. Hal mana dapat merusak hubungan dan jalinan, hingga pada akhirnya akan merusak tatanan masyarakat. Lebih-lebih bila dilakukan oleh seorang istri terhadap suami, rumah tangganya pasti akan berantakan. Karena itu Islam sangat membenci serta memberikan ancaman terhadap orang yang memiliki sikap tidak tahu berterima kasih dan bersyukur. Dia dikategorikan manusia tidak bermoral. Sebab ketidaksudian memberikan penghargaan terhadap budi baik orang lain merupakan refleksi dari kebusukan jiwa dan kepribadian, hingga berdampak enggan bersyukur kepada Allah. Padahal Rasulullah telah menegaskan: "Barangsiapa tidak berterima kasih kepada orang lain, berarti dia tidak bersyukur kepada Allah." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad).
Istri yang tidak tahu berterima kasih terhadap suami, sangat dikecam oleh Islam. Sikap yang demikian dapat memasukkan dirinya ke dalam siksa neraka. Zainab menerangkan, bahwa Rasulullah pernah berkhutbah kepada para sahabat, seraya bersabda: "Aku melihat neraka dan kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita." Lantas mereka berkata: "Mengapa demikian, ya Rasulullah?" Jawab Rasulullah: "Karena kekufurannya." Mereka bertanya lagi: "Adakah mereka kufur kepada Allah, ya Rasulullah?" Jawab Rasulullah: "Mereka kufur kepada kebaikan. Ketika kalian berbuat kebaikan kepada salah seorang dari mereka (kaum wanita) sepanjang tahun, kemudian dia melihat satu kekurangan saja darimu, dia akan mengatakan bahwa dirimu sedikitpun belum pernah berbuat baik kepadanya." (HR. Bukhari dan Muslim dari Zainab). Jadi, kebanyakan penghuni neraka adalah wanita yang tidak tahu berterima kasih kepada suaminya. Ibarat suami sudah berbuat baik sepanjang tahun, kemudian hanya ada satu kekurangan saja, wanita itu akan mengatakan bahwa suaminya belum pernah berbuat baik kepadanya. Sungguh, yang demikian merupakan kekufuran terhadap nikmat Allah yang luar biasa, hingga pantas dimasukkan ke dalam siksa neraka.
Seorang istri shalihah tentu selalu berupaya menjauhi sikap tidak tahu berterima kasih, lebih-lebih terhadap suami. Sebab dia sadar, bahwa sikap tersebut bisa melebur seluruh anak kebajikan yang telah dilakukan. Aisyah menerangkan, bahwa Rasulullah telah bersabda: "Apabila seorang wanita berkata kepada suaminya: "Aku sama sekali belum pernah melihat dan merasakan kebaikanmu," maka terhapuslah semua amal kebajikannya." (HR. Ibnu Adiy dan Ibnu Asakir dari Aisyah).
Imam Azizi menerangkan: "Wanita yang mengingkari kebaikan suami, maka amal kebajikannya dilebur oleh Allah. Kerusakan amal tersebut sebagai balasan atas kedurhakaannya terhadap suami. Jadi, pahala wanita itu terhalang, kecuali dia bertobat, kembali mengakui segala kebaikan yang telah diberikan suami. Dan bila ucapan istri itu benar, karena memang suami tidak pernah berbuat baik, maka yang demikian tidak mengakibatkan dileburnya amal kebajikan yang telah dilakukan."
Istri yang tidak mensyukuri kebaikan suami, pada hari kiamat nanti akan dijauhkan dari rahmat Allah. Sahabat Thalhah bin Ubaidillah menerangkan, bahwa Rasulullah telah bersabda: "Wanita mana saja yang berkata kepada suaminya: "Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikanmu, " pada hari kiamat nanti Allah tidak akan memberikan rahmat keapadamu." (HR. Ibnu Adiy dari Thalhah bin Ubaidillah). Sahabat Abdillah bin Amr bin Ash juga menerangkan, bahwa Rasulullah telah bersabda: "Sungguh Allah tidak akan memandang wanita yang tidak tahu bersyukur terhadap suami." (HR. Nasai dari Abdillah bin Amr bin Ash).
Seorang istri yang kaya, kemudian dia tidak mampu bersyukur terhadap suami, maka kelak di akhirat akan dikumpulkan bersama Qarun. Sahabat Utsman bin Affan menerangkan, bahwa Rasulullah telah bersabda: "Seandainya ada seorang wanita memiliki dunia dengan segala isinya, kemudian seluruh kekayaannya itu dia belanjakan untuk kepentingan suaminya, lantas setelah selang beberapa waktu dia mengungkit-ungkitnya, maka Allah akan melebur seluruh amal kebajikannya, dan akan dihalau ke neraka bersama Qarun." (HR. Ibnu Adiy dari Utsman bin Affan). Sahabat Abi Hurairah menerangkan, bahwa Rasulullah telah bersabda: "Seandainya ada seorang wanita memiliki harta seperti kekayaan nabi Sulaiman bin Dawud, kemudian sang suami ikut makan harta tersebut, lantas dia berkata kepada suaminya: "Dimana hartaku, " maka Allah akan melebur amal kebajikannya selama empat puluh tahun."
Seorang istri yang menuntut sesuatu, hingga membuat repot sang suami, maka akan dilaknat oleh para malaikat. Sahabat Sa'ad bin Abi Waqash menerangkan, bahwa Rasulullah telah bersabda: "Apabila seorang wanita tidak mau melapangkan (meringankan) kesempitan yang dihadapi suami, maka Allah murka kepadanya, dan seluruh malaikat melaknatinya." (HR. Ibnu Asakir dari Sa'ad bin Abi Waqash). Jadi, seorang istri shalihah harus selalu berupaya meringankan beban yang ditanggung suami. Jangan malah memberatkannya. Seandainya suami memiliki harta lebih pun, seorang istri tidak dibenarkan mengambil tanpa ijin. Apalagi menuntut sesuatu di luar kemampuan, sungguh suatu sikap yang sangat tidak terpuji. Sahabat Mu'awiyah menerangkan, bahwa Rasulullah telah bersabda: "Wanita mana saja yang mengambil harta suami tanpa ijin, maka dia akan menanggung dosa sama dengan dosa tujuh puluh ribu pencuri." (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Adiy dari Mu'awiyah).
Bila istri yang durhaka akan mendapatkan siksa neraka, tentu saja bagi istri yang taat kepada suami akan mendapatkan balasan surga. Padahal ketaatan terhadap suami, adalah hal yang pertama kali dihisab pada hari kiamat. Sahabat Abi Hurairah menerangkan, bahwa Rasulullah telah bersabda: "Perkara yang pertama kali ditanyakan kepada seorang wanita pada hari kiamat nanti, adalah mengenai shalat lima waktu dan waktu ketaatannya terhadap suami." (HR. Ibnu Hibban dari Abi Hurairah).
Sikap tidak terpuji dan mengingkari kebaikan suami, pasti dihindari oleh seorang istri shalihah. Dia selalu berupaya menghias diri dengan akhlak karimah, dan berterima kasih kepada suami. Mencari keridhaan Allah, dan membahagiakan suami. Meraih ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa, serta menciptakan suasana yang penuh kepasrahan dan kesederhanaan. Dia sadar, bahwa suamilah yang telah melindungi kehormatan dan harga dirinya. Menyelamatkan dirinya dari kehinaan dan perbuatan haram, serta membebaskan dirinya dari perdagangan nafsu syahwat para manusia jalang. Dia sadar pula, bahwa suamilah yang memberi nafkah, siap menanggung beban berat dan bekerja sepanjang hari demi memenuhi kebutuhan keluarga, baik sandang, pangan maupun tempat tinggal yang nyaman. Perabot rumah tangga yang layak, dan kehidupan setara dengan yang lain. Suamilah yang selalu berupaya membimbing serta mengarahkan dirinya, demi mewujudkan kebahagiaan dunia dan akhirat yang didamba bersama.
Bila suami merasa bahwa istrinya memberikan pelayanan dan penghargaan yang baik, sebagai ucapan terima kasih atas kebaikan yang telah dilakukan terhadapnya, maka hal demikian akan menumbuhkan cinta kasih yang mendalam serta merangsang suami untuk memberikan sesuatu yang lebih banyak lagi. Suami merasa berada di lahan subur, hingga cepat menumbuhkan pohon kebaikan dan membuahkan hasil yang baik berupa sanjungan dan balas budi sang istri. Tentu saja hubungan mesra, jalinan kasih yang kokoh, dan kerjasama dalam membangun mahligai rumah tangga, akan terasa semakin indah. Di sanalah akan terpancar sinar kebahagiaan dan kedamaian. Sebaliknya, sikap mengingkari kebaikan suami hanya akan mendatangkan kekeruhan hati, merangsang sifat kikir, membangkitkan kejengkelan dan kemarahan, menimbulkan perselisihan dan pertengkaran, yang akhirnya hubungan rumah tangga menjadi porak-poranda.
Untuk itu, kepada istri shalihah ditawarkan satu di antara dua pilihan dari kehidupan berikut ini.
Pertama, kehidupan dimana istri selalu berkata kepada suami: "Aku butuh ini dan itu, tapi kenyataannya aku belum pernah menerima apapun darimu," hingga kemudian suami membalas dengan ucapan: "Aku tidak akan pernah memberi sesuatu pun kepadamu, karena tidak pernah membuahkan suatu hasil kebaikan darimu." Pada akhirnya antara suami istri saling menyakiti, melukai, mencela, menghardik, bahkan sampai baku hantam.
Kedua, kehidupan dimana istri selalu berkata mesra kepada suami: "Suamiku, semoga Allah memberimu pahala atas kebaikan yang telah engkau berikan kepadaku, sekalipun sangat kecil. Semoga Allah senantiasa mencurahkan pertolongan kepada kita," lantas suami membalas dengan kata penuh kasih pula: "Istriku, engkau kepingin apa. Dengan segala senang hati aku akan memenuhinya." Pada akhirnya rasa saling pengertian, hormat-menghormati, bahu-membahu, memadu cinta kasih dan kemesraan, akan tumbuh dengan subur.
Renungkanlah, wahai istri shalihah. Jatuhkanlah pilihan anda kepada sikap yang lebih menguntungkan dirimu, baik di dunia maupun di akhirat. Sebab sorga yang penuh kenikmatan dan kebahagiaan, hanya dapat diraih dengan ketenangan dan ketenteraman dalam berumahtangga. Bukankah Rasulullah telah menegaskan: "Rumahku, sorgaku."
Semoga bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.
Selasa, 30 Desember 2014
Mengapa Organik?
Memilih untuk menjalani gaya hidup
organik memiliki efek yang luas, beberapa di antaranya mungkin tidak
terlihat nyata bagi sebagian dari kita. Berikut ini adalah beberapa
tindakan Anda yang dapat memengaruhi dunia dan hidup Anda sendiri, juga
kehidupan orang yang berada di sekitar Anda.
fb: thegooh.setyo@gmail.com
pin bb: 2A0863BF
no hp: 0856 4977 1911 (im3), 081 330 19 3839 (simpati), 0877 5327 6715 (xl)
- Mengurangi limbah dan residu kimia yang ada di dalam air minum, saluran air, dan air di daerah pesisir. Limbah adalah penyebab utama berkurangnya kehidupan laut, hewan, dan tumbuhan.
- Mengembalikan tanah menjadi lahan pertanian yang produktif dan aman. Sistem pertanian organik didasarkan pada prinsip regenerasi lahan dan tanah, dan menerapkan kelestarian lingkungan.
- Meningkatkan keanekaragaman hayati dan menyelamatkan kepunahan habitat hewan asli. Selama beberapa dekade, para ilmuwan di seluruh dunia telah melakukan penelitian dan mengambil kesimpulan yang tegas bahwa pertanian organik secara signifikan dapat mendukung kelestarian aneka ragam hayati.
- Sebagai penjaga integritas makanan. Makanan bersertifikat organik memberikan jaminan bahwa produk yang diberikan adalah produk yang tumbuh, ditangani, dikemas, dan didistribusikan secara organik dan tidak memiliki resiko atas kontaminasi produk. Seluruh proses ini dapat ditelusuri tingkat keamanannya.
- Membantu memperbaiki perubahan iklim. Pertanian dianggap bertanggung jawab menyumbang 30% dari pemanasan global akibat emisi karbon dioksida; sehingga saat menggantikan pola pertanian biasa menjadi pertanian organik akan dapat menyerap karbon dioksida kembali ke tanah dan merubahnya menjadi bentuk humus. Sebuah proyek penelitian selama 23 tahun menunjukkan bahwa jika saja 1000 ladang pertanian biasa berukuran sedang digantikan menjadi pertanian organik, maka jumlah karbon yang akan diserap oleh tanah sama besarnya dengan menghilangkan 117 sampai 440 mobil dari jalanan setiap tahunnya.
- Mengurangi emisi gas rumah kaca dengan menghilangkan penggunaan pupuk nitrogen sintetis.
- Dapat menghindari asupan makanan aditif sebanyak 2 kg setiap tahun. Banyak makanan aditif yang sudah terbukti mengakibatkan berbagai masalah seperti reaksi alergi, ruam, sakit kepala, asma, gangguan pertumbuhan, dan hiperaktif pada anak-anak.
- Menghindari produk dengan rekayasa genetika (GMO ― Genetically Modified Organism). Pengujian independen mengenai efek kesehatan jangka panjang makanan dari GMO pada manusia belum dilaksanakan dengan baik.
- Mengurangi risiko terjadinya masalah neuro-development (gangguan neurologis) pada anak-anak, termasuk ADHD dan autisme. Perkembangan neurologis yang tidak normal pada anak-anak dapat saja disebabkan seorang ibu di masa hamil menerima asupan makanan yang sudah terkontaminasi bahan pestisida dan zat kimia lainnya atau saat bayi di usia dini menerima asupan makanan yang terkontaminasi oleh zat yang sama.
- Memberikan nutrisi lengkap pada bayi yang mereka butuhkan untuk masa depan yang sehat. Sembilan puluh persen produk susu dan turunannya juga produk daging yang didapat dari sumber organik, terbukti dapat meningkatkan kadar asam lemak sehat di dalam ASI.
fb: thegooh.setyo@gmail.com
pin bb: 2A0863BF
no hp: 0856 4977 1911 (im3), 081 330 19 3839 (simpati), 0877 5327 6715 (xl)
Sabtu, 06 Desember 2014
Makanan Organik Baik untuk Menurunkan Kegemukan (Obesitas)
Kelebihan
dari makanan organik yaitu telah terbukti dapat menghindarkan akibat
buruk dari makanan ”modern” masa kini yang cenderung mengandung
pestisida dan bahan kimia yang tidak aman bagi tubuh. Selain itu, makan
organik mempunyai rasa yang lebih lezat. Apa yang tidak/jarang diketahui
oleh umum dari makanan organik adalah kemampuannya dalam membantu
mengurangi berat badan pada kasus kegemukan (obesitas).
Ini dapat Anda gunakan sebagai jalan dalam program menurunkan berat badan karena kegemukan (obesitas).
Pada saat makanan yang mengandung bahan kimia berbahaya masuk dalam sistem tubuh, maka tubuh harus menghadapi racun ini untuk membuangnya agar tidak meracuni tubuh. Pekerjaan berat ini dilakukan oleh hati (liver), yaitu organ utama yang juga berperperan dalam penurunan berat badan.
Hati (liver) adalah pembangkit tenaga dan juga pembakar lemak terbesar dalam tubuh. Namun harus dipastikan bahwa untuk dapat bekerja secara efisien, makanan yang dikonsumsi haruslah tepat, yaitu jumlah serat yang cukup dan bebas dari bahan-bahan kimia yang berbahaya serta alkohol.
Serat membantu kerja sistem pencernaan. Serat habis tidak dicerna, tetapi berfungsi membawa banyak racun / toksin dan kotoran dari tubuh dan membuangnya setiap hari melalui buang air besar. Serat sangat membantu memastikan kotoran keluar dengan cepat, seperti “pipa pembuangan” yang lancar. Pengaruh serat yang lain adalah membantu hati (liver) bekerja secara efisien dalam membuang toksin / racun dan memperkecil terajadinya timbunan lemak.
Jika tubuh terlalu banyak terisi oleh bahan-bahan kimia berbahaya/beracun akhirnya tubuh tidak mampu lagi membuangnya. Ini dapat mengarah pada terjadinya timbunan lemak, tetapi yang paling mengkhawatirkan adalah kondisi adanya lemak pada liver (fatty liver).
Hati yang mengandung racun adalah sebab utama mengapa banyak upaya orang dalam menurunkan berat badan menjadi kandas. Anda harus memastikan bahwa organ penting berfungsi pada puncak efisiensi untuk meningkatkan upaya penurunan berat badan dan ini berarti perlu makan makanan yang berkualitas baik dan bebas dari bahan kimia. Ini yang membuat makanan organik menjadi pilihan terbaik.
Perlu diingat, produsen makanan modern dewasa ini dengan sengaja menambahkan bahan kimia buatan pada makanan olahan untuk meningkatkan masa simpan dan pestisida dan hormon buatan pada produk pertanian untuk meningkatkan hasil panen.
Tentunya Anda tidak ingin terlalu banyak makanan yang demikian banyak mengandung bahan kimia beracun yang jelas akan berpengaruh pada fungsi dan kerja sistem hati dan pencernaan yang membuat Anda semakin menimbun racun dan lemak.
Makanan organik dapat membantu mengurangi jumlah bahan kimia beracun yang masuk ke dalam sistem tubuh kita, yang pada gilirannya dapat mengurangi beban sistem pencernaan dan produksi lemak
Ini dapat Anda gunakan sebagai jalan dalam program menurunkan berat badan karena kegemukan (obesitas).
Pada saat makanan yang mengandung bahan kimia berbahaya masuk dalam sistem tubuh, maka tubuh harus menghadapi racun ini untuk membuangnya agar tidak meracuni tubuh. Pekerjaan berat ini dilakukan oleh hati (liver), yaitu organ utama yang juga berperperan dalam penurunan berat badan.
Hati (liver) adalah pembangkit tenaga dan juga pembakar lemak terbesar dalam tubuh. Namun harus dipastikan bahwa untuk dapat bekerja secara efisien, makanan yang dikonsumsi haruslah tepat, yaitu jumlah serat yang cukup dan bebas dari bahan-bahan kimia yang berbahaya serta alkohol.
Serat membantu kerja sistem pencernaan. Serat habis tidak dicerna, tetapi berfungsi membawa banyak racun / toksin dan kotoran dari tubuh dan membuangnya setiap hari melalui buang air besar. Serat sangat membantu memastikan kotoran keluar dengan cepat, seperti “pipa pembuangan” yang lancar. Pengaruh serat yang lain adalah membantu hati (liver) bekerja secara efisien dalam membuang toksin / racun dan memperkecil terajadinya timbunan lemak.
Jika tubuh terlalu banyak terisi oleh bahan-bahan kimia berbahaya/beracun akhirnya tubuh tidak mampu lagi membuangnya. Ini dapat mengarah pada terjadinya timbunan lemak, tetapi yang paling mengkhawatirkan adalah kondisi adanya lemak pada liver (fatty liver).
Hati yang mengandung racun adalah sebab utama mengapa banyak upaya orang dalam menurunkan berat badan menjadi kandas. Anda harus memastikan bahwa organ penting berfungsi pada puncak efisiensi untuk meningkatkan upaya penurunan berat badan dan ini berarti perlu makan makanan yang berkualitas baik dan bebas dari bahan kimia. Ini yang membuat makanan organik menjadi pilihan terbaik.
Perlu diingat, produsen makanan modern dewasa ini dengan sengaja menambahkan bahan kimia buatan pada makanan olahan untuk meningkatkan masa simpan dan pestisida dan hormon buatan pada produk pertanian untuk meningkatkan hasil panen.
Tentunya Anda tidak ingin terlalu banyak makanan yang demikian banyak mengandung bahan kimia beracun yang jelas akan berpengaruh pada fungsi dan kerja sistem hati dan pencernaan yang membuat Anda semakin menimbun racun dan lemak.
Makanan organik dapat membantu mengurangi jumlah bahan kimia beracun yang masuk ke dalam sistem tubuh kita, yang pada gilirannya dapat mengurangi beban sistem pencernaan dan produksi lemak
Langganan:
Postingan (Atom)
