Selasa, 07 Juni 2016

Kekuatan Spiritual Hati



Langkah pertama untuk menguatkan hati spiritual adalah dengan merenungkan tujuan penciptaan kita, hubungan kita dengan Allah, pertanggungjawaban kita kepada Allah Subhanallahu wa Ta'ala pada Hari Pertimbangan, dan bagaimana kita bisa memperbaiki diri dengan memfokuskan diri pada hati kita. Terus mengingat kematian membuat hidup ini tidak menyenangkan lagi dan kita akan mengurangi kecenderungan kita pada keinginan-keinginan yang justru menggiring kita untuk mendurhakai Allah. Justru kita terlalu "memberi hati" pada dunia ini, hati kita akan terpengaruh dengan kurang baik.
(Intelligent Heart, DR. Gohar Mushtaq)

Kamis, 19 Februari 2015

RENUNGAN BAGI KITA SEMUA



Berikut adalah cuplikan yg ada pada buku yg berjudul "Menikahlah, Engkau Menjadi Kaya" oleh A. Mudjab Mahalli, penerbit MITRA PUSTAKA, halaman 412-418:

    Ketiga, anjuran mensyukuri nikmat. Mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan, adalah bagian dari perangai Islami. Dalam Al-Quran Allah telah menegaskan: "Adakah balasan kebaikan selain kebaikan pula?" (QS. Ar-Rahman: 60). Islam mengajak umat manusia agar menghiasi diri dengan sikap sosial, lebih-lebih seorang istri terhadap suaminya. Sikap yang demikian memiliki dampak positip dalam meraih kebahagiaan dalam rumah tangga, sekaligus mengokohkan jalinan hubungan sosial kemasyarakatan. Sebaliknya, Islam sangat mengecam terhadap orang yang tidak mengerti membalas budi serta mengingkari kebaikan orang. Sebab orang yang tidak bisa mensyukuri jasa baik orang lain, sama saja dengan tidak mensyukuri pemberian Allah. Karena itu, seorang istri shalihah harus mampu mengakui serta mensyukuri jasa baik suaminya, hingga hubungan yang harmonis dan jalinan cinta kasih bisa abadi.
    Orang yang paling besar haknya serta paling pantas mendapatkan kebaikan istri adalah suami. Aisyah memberikan keterangan: "Aku pernah bertanya kepada Rasulullah: "Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling besar haknya atas seorang wanita?" Jawab Rasulullah: "Suaminya." Lantas aku bertanya lagi: "Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling besar haknya atas seorang lelaki?" Jawab Rasulullah: "Ibunya." (HR. Hakim dan Bazzar dari Aisyah, dan termasuk hadis hasan). Karena itu, Islam menganjurkan kepada istri shalihah agar mampu membalas kebaikan dan jasa-jasa suami dengan mensyukuri, menghormati, menghargai, dan mentaatinya. Mengenang jasa baik suami dengan memberikan ungkapan-ungkapan kata dan perilaku yang indah dalam pergaulan keseharian. Sahabat Abi Hurairah menerangkan, bahwa Rasulullah telah bersabda: "Seandainya aku diperkenankan memerintah kepada seseorang untuk menyembah sesamanya, niscaya aku perintahkan kepada seorang wanita untuk menyembah suaminya. Demi Allah yang diriku berada dalam kekuasaan-Nya, tidaklah seorang wanita menyia-nyiakan kewajiban terhadap Tuhannya hingga dia menyia-nyiakan kewajiban terhadap suaminya." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban dari Abi Hurairah, dan termasuk hadis hasan). Ini adalah menunjukkan betapa besar nilai pahala membalas kebaikan dan jasa-jasa suami dengan bersyukur dan memberikan pengakuan dalam bentuk ketaatan.
    Istri shalihah yang mampu mengakui kebaikan suami, yang pengakuannya diwujudkan dalam bentuk pengabdian, maka dia akan mendapatkan pahala besar. Sahabat Abdullah bin Mas'ud menerangkan, bahwa Rasulullah telah bersabda: "Apabila seorang istri mencuci pakaian suami, maka Allah menetapkan baginya seribu kebaikan, mengampuni seribu kejelekan, mengangkat baginya seribu derajat, dan seluruh makhluk yang terkena sinar matahari memohonkan ampunan baginya." (HR. Thabrani dari Abdullah bin Mas'ud).
    Mengingkari jasa baik yang telah diberikan, adalah tabiat orang-orang yang keji lagi buruk. Hal mana dapat merusak hubungan dan jalinan, hingga pada akhirnya akan merusak tatanan masyarakat. Lebih-lebih bila dilakukan oleh seorang istri terhadap suami, rumah tangganya pasti akan berantakan. Karena itu Islam sangat membenci serta memberikan ancaman terhadap orang yang memiliki sikap tidak tahu berterima kasih dan bersyukur. Dia dikategorikan manusia tidak bermoral. Sebab ketidaksudian memberikan penghargaan terhadap budi baik orang lain merupakan refleksi dari kebusukan jiwa dan kepribadian, hingga berdampak enggan bersyukur kepada Allah. Padahal Rasulullah telah menegaskan: "Barangsiapa tidak berterima kasih kepada orang lain, berarti dia tidak bersyukur kepada Allah." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad).
    Istri yang tidak tahu berterima kasih terhadap suami, sangat dikecam oleh Islam. Sikap yang demikian dapat memasukkan dirinya ke dalam siksa neraka. Zainab menerangkan, bahwa Rasulullah pernah berkhutbah kepada para sahabat, seraya bersabda: "Aku melihat neraka dan kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita." Lantas mereka berkata: "Mengapa demikian, ya Rasulullah?" Jawab Rasulullah: "Karena kekufurannya." Mereka bertanya lagi: "Adakah mereka kufur kepada Allah, ya Rasulullah?" Jawab Rasulullah: "Mereka kufur kepada kebaikan. Ketika kalian berbuat kebaikan kepada salah seorang dari mereka (kaum wanita) sepanjang tahun, kemudian dia melihat satu kekurangan saja darimu, dia akan mengatakan bahwa dirimu sedikitpun belum pernah berbuat baik kepadanya." (HR. Bukhari dan Muslim dari Zainab). Jadi, kebanyakan penghuni neraka adalah wanita yang tidak tahu berterima kasih kepada suaminya. Ibarat suami sudah berbuat baik sepanjang tahun, kemudian hanya ada satu kekurangan saja, wanita itu akan mengatakan bahwa suaminya belum pernah berbuat baik kepadanya. Sungguh, yang demikian merupakan kekufuran terhadap nikmat Allah yang luar biasa, hingga pantas dimasukkan ke dalam siksa neraka.
    Seorang istri shalihah tentu selalu berupaya menjauhi sikap tidak tahu berterima kasih, lebih-lebih terhadap suami. Sebab dia sadar, bahwa sikap tersebut bisa melebur seluruh anak kebajikan yang telah dilakukan. Aisyah menerangkan, bahwa Rasulullah telah bersabda: "Apabila seorang wanita berkata kepada suaminya: "Aku sama sekali belum pernah melihat dan merasakan kebaikanmu," maka terhapuslah semua amal kebajikannya." (HR. Ibnu Adiy dan Ibnu Asakir dari Aisyah).
    Imam Azizi menerangkan: "Wanita yang mengingkari kebaikan suami, maka amal kebajikannya dilebur oleh Allah. Kerusakan amal tersebut sebagai balasan atas kedurhakaannya terhadap suami. Jadi, pahala wanita itu terhalang, kecuali dia bertobat, kembali mengakui segala kebaikan yang telah diberikan suami. Dan bila ucapan istri itu benar, karena memang suami tidak pernah berbuat baik, maka yang demikian tidak mengakibatkan dileburnya amal kebajikan yang telah dilakukan."
    Istri yang tidak mensyukuri kebaikan suami, pada hari kiamat nanti akan dijauhkan dari rahmat Allah. Sahabat Thalhah bin Ubaidillah menerangkan, bahwa Rasulullah telah bersabda: "Wanita mana saja yang berkata kepada suaminya: "Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikanmu, " pada hari kiamat nanti Allah tidak akan memberikan rahmat keapadamu." (HR. Ibnu Adiy dari Thalhah bin Ubaidillah). Sahabat Abdillah bin Amr bin Ash juga menerangkan, bahwa Rasulullah telah bersabda: "Sungguh Allah tidak akan memandang wanita yang tidak tahu bersyukur terhadap suami." (HR. Nasai dari Abdillah bin Amr bin Ash).
    Seorang istri yang kaya, kemudian dia tidak mampu bersyukur terhadap suami, maka kelak di akhirat akan dikumpulkan bersama Qarun. Sahabat Utsman bin Affan menerangkan, bahwa Rasulullah telah bersabda: "Seandainya ada seorang wanita memiliki dunia dengan segala isinya, kemudian seluruh kekayaannya itu dia belanjakan untuk kepentingan suaminya, lantas setelah selang beberapa waktu dia mengungkit-ungkitnya, maka Allah akan melebur seluruh amal kebajikannya, dan akan dihalau ke neraka bersama Qarun." (HR. Ibnu Adiy dari Utsman bin Affan). Sahabat Abi Hurairah menerangkan, bahwa Rasulullah telah bersabda: "Seandainya ada seorang wanita memiliki harta seperti kekayaan nabi Sulaiman bin Dawud, kemudian sang suami ikut makan harta tersebut, lantas dia berkata kepada suaminya: "Dimana hartaku, " maka Allah akan melebur amal kebajikannya selama empat puluh tahun."
    Seorang istri yang menuntut sesuatu, hingga membuat repot sang suami, maka akan dilaknat oleh para malaikat. Sahabat Sa'ad bin Abi Waqash menerangkan, bahwa Rasulullah telah bersabda: "Apabila seorang wanita tidak mau melapangkan (meringankan) kesempitan yang dihadapi suami, maka Allah murka kepadanya, dan seluruh malaikat melaknatinya." (HR. Ibnu Asakir dari Sa'ad bin Abi Waqash). Jadi, seorang istri shalihah harus selalu berupaya meringankan beban yang ditanggung suami. Jangan malah memberatkannya. Seandainya suami memiliki harta lebih pun, seorang istri tidak dibenarkan mengambil tanpa ijin. Apalagi menuntut sesuatu di luar kemampuan, sungguh suatu sikap yang sangat tidak terpuji. Sahabat Mu'awiyah menerangkan, bahwa Rasulullah telah bersabda: "Wanita mana saja yang mengambil harta suami tanpa ijin, maka dia akan menanggung dosa sama dengan dosa tujuh puluh ribu pencuri." (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Adiy dari Mu'awiyah).
    Bila istri yang durhaka akan mendapatkan siksa neraka, tentu saja bagi istri yang taat kepada suami akan mendapatkan balasan surga. Padahal ketaatan terhadap suami, adalah hal yang pertama kali dihisab pada hari kiamat. Sahabat Abi Hurairah menerangkan, bahwa Rasulullah telah bersabda: "Perkara yang pertama kali ditanyakan kepada seorang wanita pada hari kiamat nanti, adalah mengenai shalat lima waktu dan waktu ketaatannya terhadap suami." (HR. Ibnu Hibban dari Abi Hurairah).
    Sikap tidak terpuji dan mengingkari kebaikan suami, pasti dihindari oleh seorang istri shalihah. Dia selalu berupaya menghias diri dengan akhlak karimah, dan berterima kasih kepada suami. Mencari keridhaan Allah, dan membahagiakan suami. Meraih ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa, serta menciptakan suasana yang penuh kepasrahan dan kesederhanaan. Dia sadar, bahwa suamilah yang telah melindungi kehormatan dan harga dirinya. Menyelamatkan dirinya dari kehinaan dan perbuatan haram, serta membebaskan dirinya dari perdagangan nafsu syahwat para manusia jalang. Dia sadar pula, bahwa suamilah yang memberi nafkah, siap menanggung beban berat dan bekerja sepanjang hari demi memenuhi kebutuhan keluarga, baik sandang, pangan maupun tempat tinggal yang nyaman. Perabot rumah tangga yang layak, dan kehidupan setara dengan yang lain. Suamilah yang selalu berupaya membimbing serta mengarahkan dirinya, demi mewujudkan kebahagiaan dunia dan akhirat yang didamba bersama.
    Bila suami merasa bahwa istrinya memberikan pelayanan dan penghargaan yang baik, sebagai ucapan terima kasih atas kebaikan yang telah dilakukan terhadapnya, maka hal demikian akan menumbuhkan cinta kasih yang mendalam serta merangsang suami untuk memberikan sesuatu yang lebih banyak lagi. Suami merasa berada di lahan subur, hingga cepat menumbuhkan pohon kebaikan dan membuahkan hasil yang baik berupa sanjungan dan balas budi sang istri. Tentu saja hubungan mesra, jalinan kasih yang kokoh, dan kerjasama dalam membangun mahligai rumah tangga, akan terasa semakin indah. Di sanalah akan terpancar sinar kebahagiaan dan kedamaian. Sebaliknya, sikap mengingkari kebaikan suami hanya akan mendatangkan kekeruhan hati, merangsang sifat kikir, membangkitkan kejengkelan dan kemarahan, menimbulkan perselisihan dan pertengkaran, yang akhirnya hubungan rumah tangga menjadi porak-poranda.
    Untuk itu, kepada istri shalihah ditawarkan satu di antara dua pilihan dari kehidupan berikut ini.
    Pertama, kehidupan dimana istri selalu berkata kepada suami: "Aku butuh ini dan itu, tapi kenyataannya aku belum pernah menerima apapun darimu," hingga kemudian suami membalas dengan ucapan: "Aku tidak akan pernah memberi sesuatu pun kepadamu, karena tidak pernah membuahkan suatu hasil kebaikan darimu." Pada akhirnya antara suami istri saling menyakiti, melukai, mencela, menghardik, bahkan sampai baku hantam.
    Kedua, kehidupan dimana istri selalu berkata mesra kepada suami: "Suamiku, semoga Allah memberimu pahala atas kebaikan yang telah engkau berikan kepadaku, sekalipun sangat kecil. Semoga Allah senantiasa mencurahkan pertolongan kepada kita," lantas suami membalas dengan kata penuh kasih pula: "Istriku, engkau kepingin apa. Dengan segala senang hati aku akan memenuhinya." Pada akhirnya rasa saling pengertian, hormat-menghormati, bahu-membahu, memadu cinta kasih dan kemesraan, akan tumbuh dengan subur.
    Renungkanlah, wahai istri shalihah. Jatuhkanlah pilihan anda kepada sikap yang lebih menguntungkan dirimu, baik di dunia maupun di akhirat. Sebab sorga yang penuh kenikmatan dan kebahagiaan, hanya dapat diraih dengan ketenangan dan ketenteraman dalam berumahtangga. Bukankah Rasulullah telah menegaskan: "Rumahku, sorgaku."


Semoga bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.

Selasa, 30 Desember 2014

Mengapa Organik?

Memilih untuk menjalani gaya hidup organik memiliki efek yang luas, beberapa di antaranya mungkin tidak terlihat nyata bagi sebagian dari kita. Berikut ini adalah beberapa tindakan Anda yang dapat memengaruhi dunia dan hidup Anda sendiri, juga kehidupan orang yang berada di sekitar Anda. 
  • Mengurangi limbah dan residu kimia yang ada di dalam air minum, saluran air, dan air di daerah pesisir. Limbah adalah penyebab utama berkurangnya kehidupan laut, hewan, dan tumbuhan.
  • Mengembalikan tanah menjadi lahan pertanian yang produktif dan aman. Sistem pertanian organik didasarkan pada prinsip regenerasi lahan dan tanah, dan menerapkan kelestarian lingkungan.
  • Meningkatkan keanekaragaman hayati dan menyelamatkan kepunahan habitat hewan asli. Selama beberapa dekade, para ilmuwan di seluruh dunia telah melakukan penelitian dan mengambil kesimpulan yang tegas bahwa pertanian organik secara signifikan dapat mendukung kelestarian aneka ragam hayati.
  • Sebagai penjaga integritas makanan. Makanan bersertifikat organik memberikan jaminan bahwa produk yang diberikan adalah produk yang tumbuh, ditangani, dikemas, dan didistribusikan secara organik dan tidak memiliki resiko atas kontaminasi produk. Seluruh proses ini dapat ditelusuri tingkat keamanannya.
  • Membantu memperbaiki perubahan iklim. Pertanian dianggap bertanggung jawab menyumbang 30% dari pemanasan global akibat emisi karbon dioksida; sehingga saat menggantikan pola pertanian biasa menjadi pertanian organik akan dapat menyerap karbon dioksida kembali ke tanah dan merubahnya menjadi bentuk humus. Sebuah proyek penelitian selama 23 tahun menunjukkan bahwa jika saja 1000 ladang pertanian biasa berukuran sedang digantikan menjadi pertanian organik, maka jumlah karbon yang akan diserap oleh tanah sama besarnya dengan menghilangkan 117 sampai 440 mobil dari jalanan setiap tahunnya.
  • Mengurangi emisi gas rumah kaca dengan menghilangkan penggunaan pupuk nitrogen sintetis.
  • Dapat menghindari asupan makanan aditif sebanyak 2 kg setiap tahun. Banyak makanan aditif yang sudah terbukti mengakibatkan berbagai masalah seperti reaksi alergi, ruam, sakit kepala, asma, gangguan pertumbuhan, dan hiperaktif pada anak-anak.
  • Menghindari produk dengan rekayasa genetika (GMO ― Genetically Modified Organism). Pengujian independen mengenai efek kesehatan jangka panjang makanan dari GMO pada manusia belum dilaksanakan dengan baik.
  • Mengurangi risiko terjadinya masalah neuro-development (gangguan neurologis) pada anak-anak, termasuk ADHD dan autisme. Perkembangan neurologis yang tidak normal pada anak-anak dapat saja disebabkan seorang ibu di masa hamil menerima asupan makanan yang sudah terkontaminasi bahan pestisida dan zat kimia lainnya atau saat bayi di usia dini menerima asupan makanan yang terkontaminasi oleh zat yang sama.
  • Memberikan nutrisi lengkap pada bayi yang mereka butuhkan untuk masa depan yang sehat. Sembilan puluh persen produk susu dan turunannya juga produk daging yang didapat dari sumber organik, terbukti dapat meningkatkan kadar asam lemak sehat di dalam ASI.
  Jadi sekarang Anda sudah tahu, saatnya Anda serius mempertimbangkan menggantikan pola hidup Anda dengan gaya hidup organik. Jika Anda siap, mulailah pelajari bagaimana MELILEA dapat membantu Anda.


fb: thegooh.setyo@gmail.com
pin bb: 2A0863BF
no hp: 0856 4977 1911 (im3), 081 330 19 3839 (simpati), 0877 5327 6715 (xl)

Sabtu, 06 Desember 2014

Makanan Organik Baik untuk Menurunkan Kegemukan (Obesitas)

Kelebihan dari makanan organik yaitu telah terbukti dapat menghindarkan akibat buruk dari makanan ”modern” masa kini yang cenderung mengandung pestisida dan bahan kimia yang tidak aman bagi tubuh. Selain itu, makan organik mempunyai rasa yang lebih lezat. Apa yang tidak/jarang diketahui oleh umum dari makanan organik adalah kemampuannya dalam membantu mengurangi berat badan pada kasus kegemukan (obesitas).

Ini dapat Anda gunakan sebagai jalan dalam program menurunkan berat badan karena kegemukan (obesitas).

Pada saat makanan yang mengandung bahan kimia berbahaya masuk dalam sistem tubuh, maka tubuh harus menghadapi racun ini untuk membuangnya agar tidak meracuni tubuh. Pekerjaan berat ini dilakukan oleh hati (liver), yaitu organ utama yang juga berperperan dalam penurunan berat badan.

Hati (liver) adalah pembangkit tenaga dan juga pembakar lemak terbesar dalam tubuh. Namun harus dipastikan bahwa untuk dapat bekerja secara efisien, makanan yang dikonsumsi haruslah tepat, yaitu jumlah serat yang cukup dan bebas dari bahan-bahan kimia yang berbahaya serta alkohol.

Serat membantu kerja sistem pencernaan. Serat habis tidak dicerna, tetapi berfungsi membawa banyak racun / toksin dan kotoran dari tubuh dan membuangnya setiap hari melalui buang air besar. Serat sangat membantu memastikan kotoran keluar dengan cepat, seperti “pipa pembuangan” yang lancar. Pengaruh serat yang lain adalah membantu hati (liver) bekerja secara efisien dalam membuang toksin / racun dan memperkecil terajadinya timbunan lemak.

Jika tubuh terlalu banyak terisi oleh bahan-bahan kimia berbahaya/beracun akhirnya tubuh tidak mampu lagi membuangnya. Ini dapat mengarah pada terjadinya timbunan lemak, tetapi yang paling mengkhawatirkan adalah kondisi adanya lemak pada liver (fatty liver).

Hati yang mengandung racun adalah sebab utama mengapa banyak upaya orang dalam menurunkan berat badan menjadi kandas. Anda harus memastikan bahwa organ penting berfungsi pada puncak efisiensi untuk meningkatkan upaya penurunan berat badan dan ini berarti perlu makan makanan yang berkualitas baik dan bebas dari bahan kimia. Ini yang membuat makanan organik menjadi pilihan terbaik.

Perlu diingat, produsen makanan modern dewasa ini dengan sengaja menambahkan bahan kimia buatan pada makanan olahan untuk meningkatkan masa simpan dan pestisida dan hormon buatan pada produk pertanian untuk meningkatkan hasil panen.

Tentunya Anda tidak ingin terlalu banyak makanan yang demikian banyak mengandung bahan kimia beracun yang jelas akan berpengaruh pada fungsi dan kerja sistem hati dan pencernaan yang membuat Anda semakin menimbun racun dan lemak.

Makanan organik dapat membantu mengurangi jumlah bahan kimia beracun yang masuk ke dalam sistem tubuh kita, yang pada gilirannya dapat mengurangi beban sistem pencernaan dan produksi lemak

Rabu, 05 November 2014

10 Alasan Mengonsumsi Makanan Organik

1. Produk organik memenuhi standar ketat
Sertifikasi organik adalah jaminan publik bahwa produk telah tumbuh dan ditangani sesuai dengan prosedur yang ketat tanpa input kimia beracun yang terus-menerus.

2. Makanan organik lezat!
Ini akal sehat - tanah yang seimbang menghasilkan kuat, tanaman sehat yang menjadi makanan bergizi bagi manusia dan hewan.

3. Produksi organik mengurangi risiko kesehatan
Banyak pestisida EPA disetujui terdaftar jauh sebelum penelitian yang luas terkait bahan kimia ini untuk kanker dan penyakit lainnya. Pertanian organik merupakan salah satu cara untuk mencegah lebih bahan kimia ini dari mendapatkan ke udara, bumi dan air yang mendukung kita.

4. Pertanian organik menghormati sumber daya air kita
Penghapusan polusi bahan kimia dan nitrogen pencucian, dilakukan dalam kombinasi dengan bangunan tanah, melindungi dan melestarikan sumber daya air.

5. Petani organik membangun tanah yang sehat
Tanah adalah dasar dari rantai makanan. Fokus utama dari pertanian organik adalah dengan menggunakan praktik-praktik yang membangun tanah yang sehat.

6. Petani organik bekerja selaras dengan alam
Hal pertanian organik keseimbangan yang diminta dari ekosistem yang sehat: satwa liar didorong oleh termasuk tanaman hijauan di rotasi dan dengan mempertahankan baris pagar, lahan basah, dan daerah alam lainnya.

7. Produsen organik adalah pemimpin dalam penelitian yang inovatif
Petani organik telah memimpin jalan, sebagian besar dengan biaya sendiri, dengan penelitian yang inovatif on-farm yang bertujuan untuk mengurangi penggunaan pestisida dan meminimalkan dampak pertanian terhadap lingkungan.

8. Produsen organik berusaha untuk melestarikan keanekaragaman
Hilangnya berbagai macam spesies (keanekaragaman hayati) merupakan salah satu masalah lingkungan yang paling mendesak. Kabar baiknya adalah bahwa banyak petani organik dan tukang kebun telah mengumpulkan dan melestarikan benih, dan tumbuh varietas yang tidak biasa selama beberapa dekade.

9. Pertanian organik membantu menjaga masyarakat pedesaan yang sehat
USDA melaporkan bahwa pada tahun 1997, setengah dari produksi pertanian berasal dari hanya 2% dari peternakan. Pertanian organik dapat menjadi penyelamat untuk pertanian kecil karena menawarkan pasar alternatif di mana penjual dapat perintah harga yang wajar untuk tanaman.

10. Kelimpahan organik - Makanan dan non-makanan sama!
Sekarang setiap kategori makanan memiliki alternatif organik. Dan produk pertanian non-pangan sedang ditanam secara organik - bahkan kapas, yang sebagian besar ahli merasa tidak bisa ditanam dengan cara ini.


sumber: http://www.ota.com/
mau tanya-tanya ato sharing info/ilmu? silahkan hubungi: 085 649 771 911 / 081 330 754 254 / pin BB 2a0863bf
fb: www.thegooh.setyo@gmail.com

Kamis, 05 Juni 2014

DHEA, dehidroepiandrosteron

Ketika orang-orang fokus pada hati mereka dan menghidupkan perasaan hati yang inti, misalnya mencintai, peduli, atau menghargai mampu mengubah irama hati mereka dengan cepat. Ketika emosi-emosi positif, misalnya ketika rasa kebahagiaan, keharuan, kepedulian, dan rasa menghargai dihidupkan, produksi dehidroepiandrosteron (DHEA), yakni hormon yang melawan penuaan dalam daur manusia di dalam tubuh akan meningkat. Akan tetapi, jika hati terjangkiti penyakit spiritual, misalnya dengki, marah, atau benci, produksi DHEA berkurang dan produksi kortisol hormon stres bertambah yang mengakibatkan penuaan dan berkurangnya rentang kehidupan yang potensial.
Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sering berdoa," Ya Allah! Sungguh aku berlindung kepada-Mu dari kecemasan (stres) dan kesedihan; aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan; aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir dan sifat penakut; dan aku berlindung kepada-Mu dari terlilit utang dan tekanan orang lain." (H.R. Bukhari, Abu Dawud, dan Tirmidzi)

fb: thegooh.setyo@gmail.com
pin bb: 2A0863BF
no hp: 0856 4977 1911 (im3), 081 330 19 3839 (simpati), 0877 5327 6715 (xl)

Sabtu, 24 Mei 2014

Terima kasih ya Allah

saudaraku, tidak ada salahnya dibaca dan direnungkan yang berikut ini. alhamdullillah, insya Allah dan semoga bermanfaat. aamiin.
Hendaklah seseorang berpikir dulu sebelum berbicara. Siapa tahu karena lisannya, dia akan dilempar ke neraka. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لاَ يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِى بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِى النَّارِ
“Sesungguhnya seseorang berbicara dengan suatu kalimat yang dia anggap itu tidaklah mengapa, padahal dia akan dilemparkan di neraka sejauh 70 tahun perjalanan karenanya.” (HR. Tirmidzi no. 2314. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً ، يَرْفَعُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً يَهْوِى بِهَا فِى جَهَنَّمَ
“Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dia pikirkan lalu Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu. Dan ada juga seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka dan tidak pernah dipikirkan bahayanya lalu dia dilemparkan ke dalam jahannam.” (HR. Bukhari no. 6478)
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا يَهْوِى بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ
“Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat.” (HR. Muslim no. 2988)
Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarh Muslim (18/117) tatkala menjelaskan hadits ini mengatakan, “Ini semua merupakan dalil yang mendorong setiap orang agar selalu menjaga lisannya sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا، أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik dan jika tidak maka diamlah.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47). Oleh karena itu, selayaknya setiap orang yang berbicara dengan suatu perkataan atau kalimat, merenungkan apa yang akan ia ucap. Jika memang ada manfaatnya, barulah ia berbicara. Jika tidak, hendaklah dia menahan lisannya.”
Dalam Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Tidak ada perkataan yang bersifat pertengahan antara bicara dan diam. Yang ada, suatu ucapan boleh jadi adalah kebaikan sehingga kita pun diperintahkan untuk mengatakannya. Boleh jadi suatu ucapan mengandung kejelekan sehingga kita diperintahkan untuk diam.”
Ibnu Mas’ud pernah berkata, “Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang benar selain Dia. Tidak ada di muka bumi yang lebih berhak untuk dipenjara dalam waktu yang lama daripada lisan.” (Dinukil dari Jami’ul ‘Ulum wal Hikam)
Ibnul Mubarok ditanya mengenai nasehat Luqman pada anaknya, lantas beliau berkata, “Jika berkata (dalam kebaikan) adalah perak, maka diam (dari berkata yang mengandung maksiat) adalah emas.” (Dinukil dari Jami’ul ‘Ulum wal Hikam)
Diam itu lebih baik daripada berbicara sia-sia bahkan mencela atau mencemooh yang mengandung maksiat.
Itulah manusia, ia menganggap perkataannya tidak berdampak apa-apa, namun di sisi Allah bisa jadi perkara besar. Allah Ta’ala berfirman,
وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ
“Kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (QS. An Nur: 15). Dalam Tafsir Al Jalalain dikatakan bahwa orang-orang biasa menganggap perkara ini ringan. Namun, di sisi Allah perkara ini dosanya amatlah besar.
Selengkapnya di website kami RemajaIslam.Com >>http://remajaislam.com/177-diam-itu-emas